Thursday, August 13

Living in Manhattan is too sexy

Ini Khamis terakhir di syurga.

Khamis depan, waktu ini, saya hampir pasti sedang tidur dalam burung besi. Atau, sedang berbual-bual kosong di Hong Kong untuk transit yang 12 jam lamanya.

Ini minggu terakhir di samping perempuan tercantik,ratu hati saya.

3 bulan saya tinggalkan negara itu. Honestly, I never miss anything there. Or perhaps not yet.

Let it be the happening night life at State College downtown, the best milkshake in town at Baby's, the all you can get in one store:Walmart, Makcik International Market yang jual ayam timbang beserta ais, or Blue Loop bas free dalam campus. Rindu itu tidak pernah menyapa. Atau mungkin belum masanya.

Apatah lagi untuk rindukan lecture Microbiology atau Recitation Physics.Dream on.

Setahun lalu, New York bagi saya terlalu mengujakan and living in Manhattan in Sex and the City kelihatan sebagai terlalu seksi. Perhaps not anymore.

Having stranded on the streets for one night in that metropolitan city,I learnt what is the meaning of homeless and empty. Wander around the concrete jungle alone for a day,looking for the Canadian Embassy to apply for transit visa, saya terharu Tuhan letak saya dibawah lindungan-Nya yang paling agung.

Saya juga syukur 3 orang mamat hitam di Stesen Subway tengah malam itu tidak mengapa-apakan saya yang keseorangan membeli tiket tren.


No one knows how hard it is. Tapi saya yakin yang Dia sudah tentu mengerti.

Saya tidak pasti bagaimana untuk menghadapi minggu akan datang. Kerana semua yang ada di sini sudah hampir sempurna buat saya.

Oh,jarak itu datang lagi.

ps: please mind the rojak in this entry. Thank you.